Kita semua istimewa.

Pages

Friday, January 17, 2014

Friday, January 03, 2014

Malam Ini

Malam,
Bagaikan kotak segi empat sempit
Gelap dan hitam, dinginnya menusuk
Mencari dan tetap mencari, menyelidik
Tapi tanpa sinar setitik pun
Hanya suara nafas berhembus pelan

Malam-malam,
Terbangun di antara angka
Gelisah karena kata
Terjerat dan terikat, wangi dendam di udara
Tapi tanpa cahaya seberkas pun
Hanya suara langkah di pintu langit

Malam ini,
Memekik dalam hati, memaki!
Di antara sejuta lamunan, menyumpah!
Teriakan meledak, membentak!

Maka di malam ini,
Kita akan merindukan pagi
Bersama, yang tidak mendung
Bersama, di tengah embun
Bersama, dengan kebebasan

Sunday, October 13, 2013

Saat Tertegun

Waktu tidak akan pernah kembali. Berbahagialah orang-orang yang telah mengambil keputusan benar di masa lalu dan mendapatkan hasil baiknya hari ini. Keputusan benar di masa lalu bisa menghindarkan timbulnya kejahatan di masa sekarang -- akibat dari keputusan yang salah di masa lalu.

Seorang teman pernah berujar bahwa sesungguhnya waktu merupakan akar segala kejahatan. Rasanya pendapat ini benar.

Beberapa orang mengabadikan masa lalu dalam bentuk foto, menulis buku harian atau jurnal, dan bahkan video. Dokumentasi masa lalu mengajarkan mana hal yang benar dan yang salah -- mana yang menggembirakan dan mana yang menyedihkan. Begitu melihatnya, mungkin pikiran dan perasaan akan langsung terbawa ke situasi saat itu.

Mereka yang tidak mengetahui sejarah, suatu saat akan mengulanginya. Jika hal yang benar, tentu tidak masalah. Namun jika hal yang salah, lalu bagaimana?

Mengenang masa lalu, kita akan menyadari apa saja keputusan benar dan keputusan salah yang telah kita ambil. Saat itu, mungkin saja rasa sedih sebenarnya timbul karena mengambil keputusan yang benar dan rasa gembira sebenarnya muncul karena mengambil keputusan yang salah.

Masalahnya, kita tidak hidup untuk masa lalu. Kita hidup untuk masa kini dan masa yang akan datang.

Meskipun tampak menyenangkan, jika tahu bahwa hal tersebut sebenarnya salah, apakah sanggup untuk menghindar? Seberapa kuat akan bertahan? Lalu terhadap keputusan yang tampak buruk, jika tahu bahwa hal tersebut sesungguhnya benar, apakah sanggup untuk berjuang? Seberapa kuat untuk tetap maju?

Akhirnya, mana yang benar: mengambil keputusan, membuat keputusan, atau menerima keputusan?

Samarinda, 13 Oktober.

Thursday, October 10, 2013

Dan Biarlah

Jika tidak mengetahui ilmunya,

Bagaimana bisa mengambil keputusan? Atau memberi masukan?
Bagaimana bisa menyalahkan? Atau membenarkan?
Bagaimana bisa mengarahkan? Atau menasihati?
Bagaimana bisa menyatakan "ini kurang"? Atau "itu terlalu banyak"?

Jika tidak memiliki ilmunya,

Bagaimana mau mengajari? Atau menerima ide?
Bagaimana mau memperbaiki? Atau berkreatifitas?
Bagaimana mau memperhatikan? Atau peduli?

Jika tidak menguasai ilmunya,

Lalu akan bilang apa?
Lalu akan ke mana?

Akhirnya,
Ah biarlah.

10-10-13, Office

Thursday, August 02, 2012

Ketika Rumah Masih Rumah


Dan ketika rumah itu masih rumah,
Pada siang yang panas atau malam yang dingin,
Di antara Pekerjaan Rumah atau libur sekolah,
Ayah, yang langkah tegapnya pulang saat mentari terbenam,
Ibu, yang celoteh lembutnya mewarnai tiap gerakan,
Kakak, yang segala jahilnya menemani namun melindungi,
Adik, yang selalu saja diganggu bocah-bocah rusuh.
Ya, ketika rumah itu masih rumah,

Dan ketika rumah itu masih rumah,
Pada sore yang jingga, semua kawan datang bermain,
Tertawa, terbahak, berlarian, berloncatan, saling teriak,
berjatuhan, memanjat pohon, mengayuh sepeda,
berkeringatan, haus bersamaan,
Dinding itu menjadi saksi karya seni kita,
Telepon koin itu menjadi saksi kreatifitas kita,
Ya, ketika rumah itu masih rumah,

Dan ketika rumah itu tak lagi lengkap,
Apa yang dilakukan Ibu? Apa yang dikerjakan Ayah?
Apakah Kakak masih jahil? Apakah Adik masih manja?
Selalu ada sahabat terdekat yang tak henti bercerita,
Selalu ada Tuan dan Nyonya Guru dengan pelototnya,
Ditambah tangga sekolah angkuh menyapa tiap pagi,
Dan hei, gadis manis di kelas sebelah, coba kau tersenyum?
Namun, kawan, rumah itu tak lagi lengkap,

Dan ketika rumah itu tak lagi lengkap,
Begitu jauh tak terlihat, berbeda zona waktu dan pulau,
Transformasi Tuan dan Nyonya Guru menjadi,
Tuan dan Nyonya Dosen, ugh, lengkap dengan segala tenggat,
Namun hawa sore di teras kampus, indah sekali.
Ingin hati menundanya, ingin berlama-lama dengannya,
Bangunan tua ini menjadi rumah yang paling bijak,



Dan kemudian mereka bersorak, melemparkan toga ke langit luas,
Berfoto, mempesona, memberi bangga, mengucap salam,
Kepada setiap Ayah, kepada setiap Ibu,
Kepada setiap Kakak, kepada setiap Adik,
Hei, kawan, kita mulai mencium hidup! Tapi sebentar,
Gadis manis di sudut panggung, ke mana kau melangkah?
Di sinikah kita berpisah? Sekali lagi meninggalkan rumah?

Rumah itu tak kan kembali utuh,
Tiap pintu dan kusen jendelanya, tiap ubin dan dinding putihnya,
Wangi sayur di dapur Ibu dan tumpahan oli di garasi Ayah,
Berantakannya kamar Kakak dan selimut putih Adik,
Canda tawa teman di masa lalu, tangis haru yang menguap di udara,
Rindu yang meluap, ditahan kenyataan,
Rindu yang meluap, dan tak terobati,

Rumah,
Kita pernah sangat kecil,
Kita pernah sangat indah.

Berau, 2 Agustus 2012

Tuesday, July 03, 2012

Orang yang Bersalah

Orang yang bersalah, namun tidak mau mengaku bersalah, akan memiliki konsep berpikir untuk 1) menyalahkan orang lain, 2) memutarbalikkan kata-kata yang dia dengar, 3) pasang muka tidak peduli ketika dipersalahkan.

Menjijikkan.